Silahkan Di Baca Saja...

ReviewReviewReviewRenungan Perut dan MulutFeb 26, '08 8:48 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Browsing di warnet
Mulut dan perut merupakan bagian tubuh berongga yang di antara sekian banyak organ tubuh yang terdapat di dalamnya di antaranya adalah terorganisir dalam suatu sistem pencernaan. Tetapi dalam hal ini yang ingin saya bahas adalah dalam bahasa umum yaitu mulut dan perut. Di mana di dalam mulut terdapat satu indra pengecap rasa yaitu lidah, start pertama makanan yang masuk ke dalam sistem pencernaan.
Dari perenungan saya menemukan ada ilmu sejati di antara mulut dan perut, yaitu ilmu tentang memilih agar tidak terjebak memilih yang ilusi dengan mengesampingkan yang sejati.
Dalam proses makan atau minum, mulut merupakan gerbang pertama yang menerima makanan atau minuman. Di dalam mulut, makanan atau minuman tersebut yang utama pasti akan dirasakan oleh lidah dalam hal rasa (manis, pahit, asin, masam), tekstur (keras, lunak, serat) dan suhu (biasa, panas, dingin). Sedangkan perut yang terdiri dari sekian banyak organ tubuh yang mendukung sistem pencernaan, langsung mencerna begitu saja makanan atau minuman yang masuk melalui mulut, diproses hingga keluar produk inti yang didistribusikan ke seluruh organ sesuai alokasi kebutuhannya dan sisanya dikeluarkan dari tubuh berupa ampas baik padat maupun cair.
Misalkan kita makan bakso, setelah itu minum es kelapa muda atau es campur, kira-kira pas ya ? Tentu enak kan ? Mak nyus.... gitu lho ! Apalagi kalau ditraktir, wuih... tuambah suiiip ! Perut menerima bakso terus ditambah es kelapa muda atau es campur, diproses langsung secara bersama-sama. Di dalam perut bakso bercampur dengan es degan. Perutnya protes atau tidak ? Pasti tidak kan ? Nah sekarang kira-kira bagaimana kalau percampuran antara bakso dan es degan kita awali sebelum masuk perut, kita campur dalam satu mangkok terus kita masukkan mulut, bukankah di dalam perut kondisinya juga seperti itu ? Mulutnya protes atau tidak ? Ya iyalah.... protes, gak enak yo rasane !
Oo.... kalau begitu berarti mulut merupakan representasi dari hawa nafsu, sedangkan perut merupakan representasi dari qalbu kita, karena mulut masih membedakan terutama dalam hal rasa (terbukti kalau kita makan terasa enak, bisa habis banyak, walau kenyang tetapi masih ingin menambah, sebaliknya kalau merasa tidak enak, kita makan hanya sedikit malah terkadang tidak habis) sedangkan perut tidak membedakan apa yang masuk di dalamnya (yang penting bagi perut sebenarnya yang masuk haruslah bermanfaat dan dalam kadar yang secukupnya, sehingga sisa/residu dari proses pencernaan tidak terlalu banyak). Qalbu tidak pernah membedakan makanan itu enak atau tidak berlawanan dengan hawa nafsunya lidah, qalbu tidak pernah membedakan seseorang itu cantik atau ganteng seperti hawa nafsunya mata yang membedakan, qalbu tidak pernah membedakan suatu nada harmoni atau tidak sebagaimana hawa nafsunya telinga yang membedakan harmonisasi nada dan seterusnya.
[Q.S. Al A’raaf (07) : 31] : ... makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Memang salah satu karakter hawa nafsu adalah kecenderungan untuk berlebih-lebihan. Lihat saja saat ini, melalui berbagai media, gaya hidup selalu dipertontonkan setiap harinya, dijual dan dijadikan impian. Gaya hidup sudah menjadi komoditas yang laris manis di pasar dunia. Maka tak pelak siapa saja yang terhipnotis olehnya pasti menjadikannya sebagai sebuah obsesi dalam hidupnya yang berusaha untuk dipenuhi walau pun sebenarnya tidak perlu. Hanya mengejar bayang-bayang semu yang menipu, hanya untuk membentuk citra diri yang sebenarnya merugi, hanya untuk memenuhi ambisi yang pasti akan menjadi tragedi
[Q.S. Muhammad (47) : 36] : Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
Satu contoh sederhana tentang gaya hidup adalah fenomena handphone yang saat ini bukan barang mewah lagi karena produsen sudah memasok untuk berbagai segmentasi pasar. Teknologi dan model handphone dalam hitungan bulan selalu ada perputaran, selalu keluar yang baru. Apalagi saat ini sudah menginjak teknologi komunikasi 3G [teknologi komunikasi yang memiliki kemampuan : memiliki kecepatan transfer data cepat (144kbps-2Mbps) sehingga dapat melayani layanan data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on demand, dan on demand lain yang memungkinkan kita dapat memilih program musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu juga mampu melayani video conference dan video streaming lainnya], handphone berbasis 3G pun sudah banyak tersedia di pasar, hanya sayangnya bagi mereka yang hanya latah mengejar gaya hidup, pasti langsung beli tanpa tahu apa itu 3G, bagaimana aplikasi pemakaiannya dan seberapa mahal pulsanya. Beli handphone 3G tapi ternyata cuma dipakai ngomong sama sms saja, sungguh kasihan ! Anak sekolahan sekarang lebih asyik ber-sms ria dengan temanya daripada membantu ibunya. Lebih parah lagi banyak di antara mereka yang dengan bangga merekam adegan mesumnya, seolah hal yang sangat biasa dan lumrah untuk dilakukan.
Ada lagi satu contoh sederhana, yaitu budaya tidak pernah cukup, punya sepatu tidak cukup hanya 2 atau 3 saja melainkan mencapai belasan bahkan ada yang puluhan pasang. Punya tas tidak cukup hanya 2 atau 3 melainakan mencapai belasan bahkan ada yang puluhan. Sebab semua menyesuaikan, kalau pakai baju hijau maka seluruh aksesoris mulai atas sampai bawah harus senada. Coba berapa banyak yang hanya menjadi tumpukan di rumah karena tidak dipakai. Buakankah yang benar-benar kita miliki adalah yang kita pakai saat ini ? Kalau sudah atau jarang dipakai, kenapa tidak dikeluarkan saja dari rumah, diberikan kepada orang lain saja misalnya ? Sesungguhnya hal-hal seperti itu yang menumpuk di rumah hanya memboroskan energi kita, karena kita merasa memilikinya (melekat padanya / diperbudak / kepemilikan yang masih melekat di hati) maka tanpa kita sadari koleksi kita akan menyerap energi diri kita sehingga kita akan merasa resah seperti ada sesuatu yang kurang dan sebagi pelampiasannya biasanya kita akan membeli dan membeli lagi yang baru dan begitu seterusnya. Bukankah itu sikap yang berlebih-lebihan ?
Makanya, ayo kita mulai dari diri kita sendiri dalam hal apa pun pilihlah yang sejati, pilihlah yang memang kita memerlukan, pilihlah segala hal yang membawa kemanfaatan dan kemaslahatan dunia akhirat. Jangan sampai berakhir tragedi. Tragedi yang memilukan yaitu tidak termasuk ke dalam golongan hambanya ALLAH. Bagai proses pencernaan yang menyisakan ampas/sampah yang harus dikeluarkan dari tubuh, ibarat itulah kita bila terdegradasi dari hambanya ALLAH. Sebagai sampah layaknya ya harus dibakar. Na’udzubillah. ....



ReviewReviewReviewRenungan Perut dan MulutFeb 26, '08 8:48 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Browsing di warnet
Mulut dan perut merupakan bagian tubuh berongga yang di antara sekian banyak organ tubuh yang terdapat di dalamnya di antaranya adalah terorganisir dalam suatu sistem pencernaan. Tetapi dalam hal ini yang ingin saya bahas adalah dalam bahasa umum yaitu mulut dan perut. Di mana di dalam mulut terdapat satu indra pengecap rasa yaitu lidah, start pertama makanan yang masuk ke dalam sistem pencernaan.
Dari perenungan saya menemukan ada ilmu sejati di antara mulut dan perut, yaitu ilmu tentang memilih agar tidak terjebak memilih yang ilusi dengan mengesampingkan yang sejati.
Dalam proses makan atau minum, mulut merupakan gerbang pertama yang menerima makanan atau minuman. Di dalam mulut, makanan atau minuman tersebut yang utama pasti akan dirasakan oleh lidah dalam hal rasa (manis, pahit, asin, masam), tekstur (keras, lunak, serat) dan suhu (biasa, panas, dingin). Sedangkan perut yang terdiri dari sekian banyak organ tubuh yang mendukung sistem pencernaan, langsung mencerna begitu saja makanan atau minuman yang masuk melalui mulut, diproses hingga keluar produk inti yang didistribusikan ke seluruh organ sesuai alokasi kebutuhannya dan sisanya dikeluarkan dari tubuh berupa ampas baik padat maupun cair.
Misalkan kita makan bakso, setelah itu minum es kelapa muda atau es campur, kira-kira pas ya ? Tentu enak kan ? Mak nyus.... gitu lho ! Apalagi kalau ditraktir, wuih... tuambah suiiip ! Perut menerima bakso terus ditambah es kelapa muda atau es campur, diproses langsung secara bersama-sama. Di dalam perut bakso bercampur dengan es degan. Perutnya protes atau tidak ? Pasti tidak kan ? Nah sekarang kira-kira bagaimana kalau percampuran antara bakso dan es degan kita awali sebelum masuk perut, kita campur dalam satu mangkok terus kita masukkan mulut, bukankah di dalam perut kondisinya juga seperti itu ? Mulutnya protes atau tidak ? Ya iyalah.... protes, gak enak yo rasane !
Oo.... kalau begitu berarti mulut merupakan representasi dari hawa nafsu, sedangkan perut merupakan representasi dari qalbu kita, karena mulut masih membedakan terutama dalam hal rasa (terbukti kalau kita makan terasa enak, bisa habis banyak, walau kenyang tetapi masih ingin menambah, sebaliknya kalau merasa tidak enak, kita makan hanya sedikit malah terkadang tidak habis) sedangkan perut tidak membedakan apa yang masuk di dalamnya (yang penting bagi perut sebenarnya yang masuk haruslah bermanfaat dan dalam kadar yang secukupnya, sehingga sisa/residu dari proses pencernaan tidak terlalu banyak). Qalbu tidak pernah membedakan makanan itu enak atau tidak berlawanan dengan hawa nafsunya lidah, qalbu tidak pernah membedakan seseorang itu cantik atau ganteng seperti hawa nafsunya mata yang membedakan, qalbu tidak pernah membedakan suatu nada harmoni atau tidak sebagaimana hawa nafsunya telinga yang membedakan harmonisasi nada dan seterusnya.
[Q.S. Al A’raaf (07) : 31] : ... makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
Memang salah satu karakter hawa nafsu adalah kecenderungan untuk berlebih-lebihan. Lihat saja saat ini, melalui berbagai media, gaya hidup selalu dipertontonkan setiap harinya, dijual dan dijadikan impian. Gaya hidup sudah menjadi komoditas yang laris manis di pasar dunia. Maka tak pelak siapa saja yang terhipnotis olehnya pasti menjadikannya sebagai sebuah obsesi dalam hidupnya yang berusaha untuk dipenuhi walau pun sebenarnya tidak perlu. Hanya mengejar bayang-bayang semu yang menipu, hanya untuk membentuk citra diri yang sebenarnya merugi, hanya untuk memenuhi ambisi yang pasti akan menjadi tragedi
[Q.S. Muhammad (47) : 36] : Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
Satu contoh sederhana tentang gaya hidup adalah fenomena handphone yang saat ini bukan barang mewah lagi karena produsen sudah memasok untuk berbagai segmentasi pasar. Teknologi dan model handphone dalam hitungan bulan selalu ada perputaran, selalu keluar yang baru. Apalagi saat ini sudah menginjak teknologi komunikasi 3G [teknologi komunikasi yang memiliki kemampuan : memiliki kecepatan transfer data cepat (144kbps-2Mbps) sehingga dapat melayani layanan data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on demand, dan on demand lain yang memungkinkan kita dapat memilih program musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu juga mampu melayani video conference dan video streaming lainnya], handphone berbasis 3G pun sudah banyak tersedia di pasar, hanya sayangnya bagi mereka yang hanya latah mengejar gaya hidup, pasti langsung beli tanpa tahu apa itu 3G, bagaimana aplikasi pemakaiannya dan seberapa mahal pulsanya. Beli handphone 3G tapi ternyata cuma dipakai ngomong sama sms saja, sungguh kasihan ! Anak sekolahan sekarang lebih asyik ber-sms ria dengan temanya daripada membantu ibunya. Lebih parah lagi banyak di antara mereka yang dengan bangga merekam adegan mesumnya, seolah hal yang sangat biasa dan lumrah untuk dilakukan.
Ada lagi satu contoh sederhana, yaitu budaya tidak pernah cukup, punya sepatu tidak cukup hanya 2 atau 3 saja melainkan mencapai belasan bahkan ada yang puluhan pasang. Punya tas tidak cukup hanya 2 atau 3 melainakan mencapai belasan bahkan ada yang puluhan. Sebab semua menyesuaikan, kalau pakai baju hijau maka seluruh aksesoris mulai atas sampai bawah harus senada. Coba berapa banyak yang hanya menjadi tumpukan di rumah karena tidak dipakai. Buakankah yang benar-benar kita miliki adalah yang kita pakai saat ini ? Kalau sudah atau jarang dipakai, kenapa tidak dikeluarkan saja dari rumah, diberikan kepada orang lain saja misalnya ? Sesungguhnya hal-hal seperti itu yang menumpuk di rumah hanya memboroskan energi kita, karena kita merasa memilikinya (melekat padanya / diperbudak / kepemilikan yang masih melekat di hati) maka tanpa kita sadari koleksi kita akan menyerap energi diri kita sehingga kita akan merasa resah seperti ada sesuatu yang kurang dan sebagi pelampiasannya biasanya kita akan membeli dan membeli lagi yang baru dan begitu seterusnya. Bukankah itu sikap yang berlebih-lebihan ?
Makanya, ayo kita mulai dari diri kita sendiri dalam hal apa pun pilihlah yang sejati, pilihlah yang memang kita memerlukan, pilihlah segala hal yang membawa kemanfaatan dan kemaslahatan dunia akhirat. Jangan sampai berakhir tragedi. Tragedi yang memilukan yaitu tidak termasuk ke dalam golongan hambanya ALLAH. Bagai proses pencernaan yang menyisakan ampas/sampah yang harus dikeluarkan dari tubuh, ibarat itulah kita bila terdegradasi dari hambanya ALLAH. Sebagai sampah layaknya ya harus dibakar. Na’udzubillah. ....



Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Sumber Jawa Pos, Sabtu 16 Oktober 2004
MENGAMUK
Kenapa terjadi?
Anak mengamuk ketika ia dipenuhi dengan hal-hal yang membuatnya marah/frustasi sehingga ia kehilangan seluruh pengendalian dirinya. Ketika anak menemukan banyak keterampilan baru, ketika berhadapan dengan keterbatasan kemandiriannya baik karena intervensi orang tua atau keterbatasan fisik dan inteklektual, seorang anak bisa mengamuk sekali sampai duakali sehari. Ia mungkin menendang-nendang, menjerit, menangis atau menahan napasnya hingga mukanya biru.

Orangtua mungkin bereaksi berlebihan terhadap hal itu. Membujuk-bujuknya agar berhenti, membentak, lebih buruk lagi kalau orangtua menjanjikan sesuatu bila anaknya mau berhenti. Meski ledakan kemarahan dimulai tanpa tujuan, tapi dengan segera akan menjadi kebiasaan bila ia menyadari bahwa ledakan itu bisa menghasilkan sesuatu yang enak.

Ia mendapatkan perhatian, dan juga mendapatkan apa yang diinginkan. Kalau orangtua bereaksi lain, amukannya kemungkinan besar akan menghilang perlahan-lahan.
Sebaliknya, reaksi berlebihan malah membuatnya makin sering melakukannya.

Apa yang harus dilakukan?
Yang paling penting anda harus mengabaikan amukannya ketika terjadi. Jangan mendekati anak yang sedang mengamuk, jangan mencoba berdalih dengannya atau bahkan sekadar berbicara dengannya ketika ledakan itu masih berlangsung. Pasanglah muka topeng, jangan menunjukkan rasa prihatin sedikit pun. Ini membutuhkan usaha, tapi ingat bahwa makin hebatnya amukan anak itu tergantung pada reaksi anda.

Namun, seharusnya anda tetap ada diruangan itu ketika anak mengamuk dengan melakukan kesibukan yang lain. Amukannya sebetulnya menakutkan diri si anak sendiri, maka kehadiran anda penting. Kalau amukannya begitu mengganggu orang lain, atau bila ada tamu, cukup bawa dia ketempat lain untuk melanjutkan amukannya secara privat.

Kalau si anak mulai melemparkan sesuatu, berkatalah dengan tenang dan tegas, "Kamu kena setrap. Tak boleh lempar-lempar atau dorong-dorong." Lalu setraplah dengan mendudukkannya di tempat ia berada. Jangan boleh bergerak sebelum amukannya reda.

Setelah amukan berhenti, tenteramkan hatinya. Duduklah bersamanya hingga ia pulih, lalu katakan, Ibu senang sekarang kamu merasa lebih enak. Kamu marah sekali ya. Ibu tahu. Tapi tak suka teriakan dan jeritan, maka ibu tak mau mendengar. Kalau ia sudah tenang, ajaklah anak anda melakukan kegiatan yang disukainya.

Anda perlu mengajarkannya cara alternatif untuk menghadapi frustasi dan kemarahan. Simak perilaku yang tampaknya menunjukkan kemajuan. Tunjukkan kepadanya betapa senang anda melihat kemajuan itu. Mungkin juga anda perlu menjelaskan bagaimana anda menghadapi perasaan anda sendiri. Dengan begitu anda memberikan model tentang cara yang benar dalam mengatasi stres dan menanggapi kesukaran yang dia hadapi (pengendalian perasaan dan emosi).

EMOSI PICU KEKERASAN
Ada satu solusi untuk menurunkan tingkat kriminalitas yang terus meningkat. Prof.Dr.Sarlito W. Sarwono mengatakan perlunya EI bagi setiap orang. Utamanya, untuk emosi. "Seseorang dikatakan cerdas, tidak cukup hanya jika ia memiliki IQ yang tinggi," ujar Sarlito. Lebih dari itu, kecerdasan emosional juga sangat penting.

Ini juga berkaitan dengan peningkatan angka kriminalitas yang terus-menerus setiap waktu. "Apa yang menjadi penyebabnya, itu perlu dicari," jelasnya dalam sebuah workshop Emotional Intellegence (EI) atau Kecerdasan Emosional di hotel Shangri-La, Jakarta,12/10.

Indonesian Children Walfare Foundation and Minister of Justice menunjukkan data terbaru tentang angka-angka kriminalitas khususnya yang dilakukan oleh anak. Pada 2003, sekitar 11.344 anak ditangkap karena tindakan kriminal, dan 2.000 masuk penjara karena alasan yang sama. Setahun sebelumnya, terdapat 1.184.000 anak mengalami putus sekolah dan terkena HIV/AIDS, sisanya 1.800.000 anak positif memakai narkoba.

Guru besar psikologi Universitas Indonesia ini mengatakan, faktor utama yang mendasari terjadinya hal-hal tersebut adalah rendahnya tingkat kecerdasan emosional masyarakat. "40 tahun terakhir, nilai sosial masyarakat menurun. Ini ditunjukkan oleh banyaknya masalah-masalah perceraian, sampai masalah kurangnya perhatian orang tua pada anaknya," ungkap Sarlito.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi itu sendiri, ia artikan orang yang mampu untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri. "Pertama, ia akan memiliki empati pada orang lain. Kedua, paham kondisi emosi orang lain."

Dengan demikian, orang akan cenderung memberikan pengendalian pada dirinya sendiri, terutama pengendalian dan kekerasan. Pendidikan EI memang lebih ditekankan pada anak-anak, meski sebenarnya dapat dilakukan pada segala umur. Diutamakan pada anak-anak karena pada masa itu pembentukan karakter dimulai. "Dengan demikian setelah mereka remaja akan sejalan dengan pemahaman nilai moral."

Yang perlu dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya tentang EI, tentu diawali dengan memberikan perhatian yang cukup pada mereka. Selanjutnya perlu juga ditanamkan pada anak, tentang mengendalikan keinginan dan emosinya. Jangan biasakan anak-anak untuk meluapkan kemarahan atau kegembiraan yang berlebihan.

Seperti kebiasaan berteriak saat marah atau mudah menangis. "Dengan lebih banyak memberikan pengertian dan pujian, akan membantunya memahami nilai-nilai benar dan salah." Sayangnya, tutur Sarlito, hingga sekarang EI belum memiliki standar ukuran seperti halnya IQ. Karena ini sangat terkait dengan tradisi dan kebudayaan.
Sumber Jawa Pos, Sabtu 16 Oktober 2004

ReviewReviewReviewBecoming a Great TeacherDec 28, '07 11:57 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:adi@adiwgunawan.com
Mediocre teacher tells
Good teacher explains
Superior teacher demonstrates
Great teacher inspires
William A. Ward

Minggu lalu saya ke Jakarta mengikuti peluncuran buku The 8th Habit karya DR. Stephen R. Covey. Satu hal menarik yang disampaikan oleh Covey adalah, ?I am more a teacher than a speaker?. Intisari dari buku Covey yang paling anyar ini adalah bagaimana kita bisa menemukan tujuan hidup kita dan selanjutnya membantu orang lain melakukan hal yang sama. Atau dalam bahasa Covey, ?Find your inner voice and inspire others to find theirs?. Hal lain yang sangat berkesan yang saya dapatkan dari seminar ini adalah saat Covey berkata, ?Leadership is communicating people?s worth and potential so clearly that they are inspired to see it in themselves? . Wow?.. satu statement yang begitu indah dan luar biasa yang membuat saya sangat terinspirasi.

Mengapa Covey mengatakan bahwa ia lebih sebagai seorang guru dari pada pembicara ? Saat Covey mengucapkan statement ini saya langsung teringat pada kata-kata bijak William A. Ward di atas. Covey adalah seorang Great Teacher karena ia mampu menginspirasi orang lain. Saat itu juga saya teringat apa yang baru-baru ini saya lakukan dengan seorang murid SMU yang mengalami ?masalah?. Anda jangan salah mengerti. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya ini sama seperti Covey. Yang ingin saya sampaikan adalah saya sangat senang karena apa yang saya lakukan telah sejalan dengan inspirasi yang saya dapatkan dari Covey. Dan jika saya bisa maka anda juga pasti bisa melakukannya.

Baru-baru ini saya diminta membantu anak SMU kelas 1, sebut saja Budi, yang menurut orangtua dan sekolahnya, adalah anak bermasalah. Saat pertama kali bertemu, Budi datang bersama ayahnya. Lebih tepatnya, ayah Budi membawa anaknya bertemu saya. Setelah ngobrol santai beberapa saat, saya melihat apa yang sebenarnya menjadi duduk persoalan. Yang pertama, Budi tidak mempunyai figur yang bisa menjadi idola atau panutan hidupnya sehingga ia sama sekali tidak tahu mau menjadi seperti siapa (diri ideal). Kedua, Budi memandang dirinya sebagai anak yang bermasalah dan gagal di sekolah karena orangtua dan sekolah memandang dirinya seperti itu (Citra Diri). Ketiga, Budi tidak tahu apa gunanya ia sekolah. Ia tidak tahu tujuan hidupnya.

Seperti kebanyakan anak muda, penampilan Budi agak berantakan. Telinga kirinya di?tindik?. Baju yang dipakainya saat itu jauh dari rapi dan celana panjangnya adalah celana jean yang di bagian paha depan, kiri dan kanan, robek (modelnya memang seperti itu). Selain itu Budi datang dengan menggunakan sandal. Setelah selesai berdiskusi saya meminta Budi, untuk sesi konseling selanjutnya, datang sendiri namun dengan satu syarat. Saya minta ia untuk mengubah penampilannya. Bila ia tidak mau maka saya tidak akan memberikan waktu saya. Saya minta Budi untuk berpakaian rapi, pakai celana dari bahan kain, bukan jean, tidak boleh ada ?tindik? di telinganya, pakai jam tangan, ada pen di kantong bajunya, dan harus pakai sepatu.

Mengapa saya ?memaksa? Budi untuk melakukan hal ini ? Saya ingin mengetahui seberapa besar keinginannya untuk berubah. Apakah ia bersedia membayar harga untuk itu ? Apakah ia bersedia keluar dari zona kenyamanannya ? Hal paling penting adalah saya ingin mengubah cara ia memandang dirinya, dari no-body menjadi some body. Langkah paling mudah, sebelum saya membantu Budi dari dalam (mental) adalah dengan mengubah penampilan luarnya. Ini ada hubungannya dengan Citra Diri. Dan ini adalah bagian dari terapi yang akan saya lakukan.

Benar. Saat pertemua kedua, Budi datang sendiri dengan penampilan yang berubah total. Saya memuji perubahan dirinya. Setelah aspek luarnya di-obok-obok, kini saya masuk ke aspek mentalnya. Sejak dari awal saya telah memandang dirinya sebagai seorang pemenang. Saya menyampaikan hal ini secara terbuka. Saya tahu ia tidak atau belum percaya pada dirinya. Dan saya juga tahu bahwa saya bisa membuat ia percaya apa yang saya katakan. Mengapa ? Ingat prinsip kerja pikiran bawah sadar di artikel saya sebelumnya ? Saya tahu Budi memandang saya sebagai orang yang memiliki otoritas. Jadi apa yang saya lakukan ? Saya memanfaatkan pengetahuan saya tentang cara kerja pikiran, masuk ke pikiran bawah sadarnya, dan menanam bibit-bibit pikiran positip. Saya melakukannya berkali-kali (repetisi), dengan memainkan emosinya, baik yang positip maupun yang negatip, sehingga bibit-bibit pikiran itu tertanam sangat dalam di pikirannya.

Budi lalu menunjukkan rapor sisipan yang baru ia terima. Hasilnya ? Luar biasa. Gurunya ternyata kehabisan tinta biru sehingga ?terpaksa? menulis nilai ujiannya dengan tinta merah. Setelah saya amati saya menemukan satu hal menarik. Meskipun hampir semua nilainya ?kebakaran? namun ada dua nilai dari dua bidang studi yang pernah mendapatkan nilai sangat tinggi, yaitu Fisika 98 dan Sosiologi 93.

Saya lalu bertanya, ?Bud, jawab jujur ! Nilai Fisika dan Sosiologi ini apakah benar-benar nilai yang kamu capai sendiri atau kamu nyontek ??. ?Saya capai sendiri Pak?, jawab Budi tegas. Saya tahu bahwa ini jawaban jujur dengan membaca bahasa tubuhnya.
?Ok. Kalau begitu, jawaban kamu membenarkan keyakinan saya terhadap dirimu. Saya tahu kamu anak cerdas dan mampu. Nilai merah di rapormu itu sebenarnya bukan karena kamu tidak mampu tapi karena kamu tidak belajar. Benar seperti itu ??, tanya saya lagi. ?Benar Pak?, jawab Budi sambil menundukkan kepala. ?Bud, kalau bicara dengan saya, saya mau kamu bicara dengan kepala tegak dan menatap mata saya?, perintah saya. ?Kamu tidak mau belajar karena kamu merasa bahwa sekolah sebenarnya tidak ada gunanya bagi kamu. Apa benar seperti itu pemikiranmu ??, kejar saya lagi. ?Benar Pak?, jawab Budi sambil menatap saya.

Budi selanjutnya bercerita bahwa ia telah diskors selama 1 minggu dan akan dikeluarkan oleh sekolah. Ia ingin pindah ke sekolah lain dan ia berjanji akan berubah bila ia telah pindah sekolah. Mendengar cerita ini saya lalu berkata, ?Bud, kalau kamu mau belajar dari saya, maka yang pertama harus kamu mengerti adalah kita harus melakukan segala sesuatu dengan alasan yang benar dan dengan rasa bangga. Jangan mau dikeluarkan. Ini sungguh memalukan. Kalau kamu dikeluarkan maka hal ini sama dengan kamu diusir karena kamu dianggap sebagai pesakitan atau kriminal. Apalagi dengan nilai yang jelek. Kalau mau, kamu yang memutuskan keluar dari sekolahmu. Tapi nanti setelah naik kelas 2. Kamu pindah sekolah tapi dengan nilai rapor yang tinggi, kalau perlu kamu masuk 5 besar di kelasmu. Saat itu sekolahmu akan memohon-mohon kamu untuk tidak pindah karena akan kehilangan murid cerdas. Nah, kalau kamu pindah saat itu, kamu pindah atau keluar dari sekolah dengan dada yang busung, bangga dan gagah. Kamu mengerti hal ini ??. ?Ya Pak?, jawab Budi.

Selanjutnya saya berkata, ?Bud, saya melihat dirimu seperti seorang burung elang yang mampu terbang sangat tinggi. Kamu bukan ayam. Ayam matinya karena dipotong. Elang matinya karena usia tua setelah terbang tinggi menjelajahi dunia. Kamu adalah elang, bukan ayam. Jangan pernah mau menjadi seekor ayam. Saya bersedia membantu kamu karena saya melihat kamu sebagai seekor elang. Saya hanya mau melatih elang. Saya tidak pernah mau repot dengan ayam.Tahu mengapa ? Karena ayam memang nggak bisa terbang tinggi. Kalau selama ini sekolah, guru, dan kepala sekolahmu memadang kamu seperti ayam, ini karena mereka tidak tahu siapa diri kamu yang sesungguhnya. Mari kita buktikan pada mereka siapa kamu sesungguhnya. Kamu adalah seekor elang. Masuk 5 besar di kelasmu itu sangat mudah. Kamu punya kemampuan untuk itu?.

Saya melihat ia agak bingung setelah mendengar cerita saya. Kemudian ia berkata, ?Jujur Pak, baru kali ini ada orang yang bicara seperti ini pada saya. Biasanya saya hanya ditegur, dimarah, dihukum, dan dikucilkan karena dianggap anak nakal dan membuat masalah untuk sekolah. Guru BP saya tidak pernah bicara seperti ini pada saya?.

Setelah merasa cukup dengan ?programming?, saya lalu memberikan gambaran akan masa depan yang bisa ia capai. Kemungkinan-kemungkinan yang bisa ia pilih dalam hidupnya. Saat itu ia mulai terlihat semangat. Ia mulai bisa melihat hubungan antara sekolah dan masa depan.

Selanjutnya saya membantu Budi menyusun goal atau target pembelajaran. Berapa nilai yang akan ia capai untuk tiap mata pelajaran. Mengapa ia perlu mencapai target itu. Mengapa ia bisa mencapainya. Bagaimana ia mengatur dirinya dengan lebih baik sehingga waktu yang ada dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Saya lalu menjelaskan bahwa semua bidang studi yang diajarkan di sekolah sebenarnya masuk dalam 4 kategori yaitu kategori bahasa, konsep, kombinasi, dan hapalan. Yang masuk kategori bahasa misalnya pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris. Kategori konsep contohnya matematika. Kategori kombinasi contohnya Fisika, Kimia, dan Akuntansi. Hapalan contohnya Biologi, Sosiologi, dan Sejarah. Setiap kategori menuntut strategi belajar yang berbeda. Saya lalu mengajarkan cara belajar yang benar untuk masing-masing kategori.

Setelah itu saya mengajarkan strategi untuk mengerjakan ujian. Mengapa ? Karena setiap tipe soal menuntut cara mengerjakan yang berbeda. Misalnya tes multiple choice, esai, menjawab singkat atau melengkapi, soal cerita, tes jawaban pasti atau soal objektif, dan performans.

Budi berkata,?Sekolah saya nggak pernah mengajarkan seperti yang Bapak ajarkan pada saya. Saya baru tahu kalau setiap mata pelajaran menuntut strategi belajar yang berbeda?. ?Bukan hanya sekolahmu saja yang nggak pernah melakukan hal ini. Hampir semua sekolah sama sekali tidak pernah mengajarkan murid-murid mereka cara belajar yang benar?, jawab saya.

Budi pulang dengan antusiasme baru. Ia berjanji akan memberikan laporan mengenai hasil ujian yang ia capai. Dari guru lesnya saya mendapat kabar bahwa Budi telah berubah. Sikap, semangat, dan cara pandangnya terhadap dirinya telah berubah. Ia lebih fokus.

Apakah saya bangga ? Sudah tentu. Berapa saya dibayar untuk sesi konseling ini ? Orangtuanya memaksa saya untuk menetapkan fee. Saya menolak. Saya lebih suka menggunakan pendekatan NATO alias No Angpao Thanks Only. Mengapa saya mau melakukan ini ? Karena saya melihat orangtuanya serius ingin membantu anaknya berubah. Jika orangtuanya tidak serius atau ogah-ogahan maka saya pasti akan menetapkan harga yang tinggi untuk ?memaksa? orangtuanya melakukan apa yang saya minta mereka lakukan. Orangtua Budi, khususnya ayahnya, bersedia melakukan apa yang saya minta sebagai dukungan pada anaknya dalam menjalani proses transformasi diri. Keseriusan orangtua Budi dalam hal ini sudah merupakan bayaran bagi saya dan ini tidak bisa dinilai dengan rupiah. Mengapa ? Karena saya yakin, saat Budi bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cakap dan berhasil, maka ia akan dapat menjalani suatu kehidupan yang bermakna tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga untuk keluarganya, dan masyarakat. Ingat pesan Covey , ?Find your inner voice and inspire others to find theirs?.


Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis ? The Art of Subcsoncsious Communication.

Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:adi@adiwgunawan.com
All children are born geniuses ; 9.999 out of every 10.000 are swiftly,
inadvertaently degeniusized by grownups
Buckminster Fuller

Minggu lalu saya memberikan pelatihan motivasi dan pengembangan diri di suatu perusahaan blue chip. Saat sesi tanya jawab, ada seorang peserta yang bertanya, ?Pak, apa yang menjadi kunci sukses untuk bisa berhasil dalam penjualan / selling ??. ?Mengapa bapak mengajukan pertanyaan ini ??, saya balik bertanya. ?Saya telah mengikuti sangat banyak pelatihan. Namun, saya merasakan ada sesuatu, di dalam diri saya, yang terus menghambat diri saya. Saya tidak bisa bekerja secara maksimal?, jawab peserta ini.

Saya lalu menjelaskan mengenai Konsep Diri. Bagaimana pengaruh Konsep Diri terhadap kinerja kita. Bila Konsep Diri kita positip maka akan sangat mudah bagi kita untuk meraih keberhasilan. Sebaliknya, bila Konsep Diri buruk maka kita akan sangat sulit berhasil, di bidang apa saja yang kita lakukan. Prestasi hidup kita berbanding lurus dengan Konsep Diri kita. Konsep Diri sebenarnya adalah operating system yang menjalankan komputer mental kita.

?Kalau memang Konsep Diri itu sedemikian penting, lalu mengapa kebanyakan orang Konsep Dirinya kurang baik ? Hal ini tercermin dari prestasi hidup mereka yang biasa-biasa. Bisa Bapak jelaskan asal muasal terbentuknya Konsep Diri ??, kejarnya lagi.

Nah, pertanyaan saya pada anda, pembaca, ?Sejak kapankah Konsep Diri ini mulai terbentuk ? Faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan Konsep Diri ??

Apa yang saya uraikan di bawah ini adalah jawaban saya kepada peserta seminar itu.

Proses pembentukan Konsep Diri dimulai sejak kita dilahirkan. Ada dua masa kritis yang perlu kita, sebagai orangtua dan pendidik, cermati. Periode pertama adalah pada usia 0 ? 6 tahun. Periode ini sebenarnya terbagi dua, yaitu usia 0 ? 3 thn dan 3 ? 6 thn. Apa yang terbentuk pada tiga tahun pertama dalam hidup seorang anak merupakan fondasi yang akan digunakan sebagai landasan untuk mengkonstruksi dirinya pada tiga tahun ke dua. Selanjutnya apa yang telah terbentuk pada 6 tahun pertama hidup anak, akan digunakan sebagai fondasi untuk mengembangkan diri lebih lanjut.

Masa kritis selanjutnya adalah saat anak masuk SD. Lima tahun pertama hidup anak di SD merupakan masa kritis yang jarang atau bahkan tidak pernah diperhatikan orangtua dan pendidik. Mengapa lima tahun di SD ini sangat penting ?

Semua ini berhubungan dengan sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah. Di Indonesia, anak SD kelas 1 sudah dibebani dengan minimal 9 (sembilan) mata pelajaran. Hebatnya lagi, anak-anak kita ?harus? bisa mencapai nilai yang bagus. Kalau tidak baik nilainya maka akan dicap anak bodoh, bloon, tolol, goblok, telmi, otak udang, idiot,dan masih banyak istilah ?keren? lainnya (maaf bila saya menggunakan kata-kata yang kurang santun)

Dari semua bidang studi, ada dua bidang studi yang menjadi kunci pembentukan Konsep Diri anak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di Spanyol.

Kedua bidang studi itu adalah matematika dan bahasa. Mengapa matematika dan bahasa? Di seluruh dunia, saat anak masih di SD, yang diutamakan adalah 3R yaitu Reading, Writing, and Arithmetic. Atau kalau dalam bahasa Indonesia adalah 3M yaitu Membaca, Menulis, dan Menghitung.

Saya setuju dengan pentingnya anak menguasi 3M dengan alasan berikut. Pertama, bahasa adalah kunci untuk memahami bahan ajar. Anak yang lemah kemampuan bahasanya akan sangat sulit untuk bisa mempelajari bahan ajar yang disampaikan guru. Mengapa ? Karena semua bahan ajar disampaikan dengan menggunakan bahasa sebagai media atau pengantar. Kedua, matematika sangat penting untuk mengembangkan logika berpikir dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya teringat saat dua tahun lalu saya dan istri ke Singapore untuk mencari buku Sains kelas 1 SD. Kami berencana menggunakan buku Sains ini di sekolah kami, Anugerah Pekerti. Oleh staff di toko buku itu kami diberi tahu bahwa di Singapore, selama 2 tahun pertama anak di SD, mereka hanya diajarkan 3 bidang studi, yaitu bahasa Inggris, Matematika, dan bahasa Ibu (misalnya Mandarin, Melayu, India). Bidang studi lainnya baru diajarkan mulai kelas 3 SD.

Saya mendapat penjelasan bahwa hal ini disengaja agar saat anak mempelajari suatu materi, saat mereka kelas 3 SD, mereka telah mempunyai fondasi yang kuat yaitu kemampuan baca, tulis, dan hitung yang baik. Bandingkan dengan apa yang harus dijalani anak-anak kita di Indonesia. Saat kemampuan berbahasa mereka masih belum bagus anak, di Indonesia, telah dituntut untuk mempelajari sangat banyak materi. Ditambah lagi, pada umumnya anak didik kita lemah di Matematika.

Anda mungkin bertanya, ?Mengapa kemampuan bahasa dan matematika yang kurang baik dapat berpengaruh negatip terhadap Konsep Diri seorang anak ??

Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas, saya ingin menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan di propinsi Almeria di Spanyol, dengan menggunakan SDQ Questionnaire. Penelitian ini dilakukan terhadap 245 murid SD. Hasil dari penelitian itu menyebutkan bahwa bidang studi yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap Konsep Diri anak adalah bahasa dan matematika.

Intisari dari penelitian itu adalah sebagai berikut:

1. Prestasi akademik menentukan konsep diri
Pengalaman akademik, baik keberhasilan maupun kegagalan, lebih
mempengaruhi konsep diri anak, daripada sebaliknya.
2. Level konsep diri mempengaruhi level keberhasilan akademik
3. Konsep diri dan prestasi akademik saling mempengaruhi dan saling menentukan
4. Terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi konsep diri dan prestasi akademik

Sekarang coba kita cermati apa yang terjadi di sekolah ? Anak, sejak SD kelas 1, telah dijejali dengan begitu banyak materi yang harus dipelajari. Pada saat itu, misalnya, kemampuan bahasanya masih kurang bagus. Lalu apa akibatnya ? Nilai yang dicapai anak kurang maksimal karena faktor bahasa yang menjadi penghambat. Karena sering mendapat nilai buruk, guru dan orangtua mulai memberi label ?bodoh? pada anak ini. Yang terjadi selanjutnya adalah proses pemrogramam atau lebih tepatnya ?pembodohan? anak karena Konsep Diri anak buruk.

Lalu bagaimana dengan matematika. Ini setali tiga uang. Proses pembelajaran matematika di SD sangat tidak manusiawi, bertentangan dengan cara belajar anak, dan sama sekali tidak fun. Di mana saja, bila saya memberikan seminar pendidikan, saya selalu bertanya pada orangtua maupun guru, ?Apa mata pelajaran yang paling dibenci atau ditakuti anak didik ??. Jawabannya selalu sama, ?Matematika?. Mengapa anak sampai takut atau benci matematika ?

Cara mengajar matematika di sekolah pada umumnya bersifat abstrak. Apa maksudnya ? Jika kita mengacu pada Piaget (teori perkembangan kognitif) dan Montessori (proses konstruksi diri anak) maka pada usia SD anak harus belajar dengan cara konkrit. Konkrit maksudnya adalah ada benda yang bisa dilihat dan dipegang anak saat anak belajar simbol matematika. Angka ?1?, ?2?, ?3?, dan seterusnya, ini adalah simbol dan bersifat abstrak. Untuk bisa benar-benar memahami konsep matematika, urutan pembelajaran yang benar adalah dari konkrit, semi abstak, dan abstrak. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah gaya belajar dan kepribadian anak. Setiap gaya belajar membutuhkan strategi yang berbeda.

Saat ini banyak orangtua, khususnya para ibu, yang bangga karena anaknya, yang masih SD kelas 1 atau 2, dapat dengan cepat menghitung perkalian 3 digit x 3 digit, karena ikut kursus menghitung cepat. Hal yang sering mereka abaikan adalah mereka tidak tahu apakah anak menguasai konsep dengan benar atau tidak. Saya pernah bertanya pada seorang ibu yang sedemikian bangga dengan anaknya yang bisa menghitung cepat, ?Bu, 3 x 1 itu artinya apa ??. ?Lha, 3 x 1 sama dengan 3?, jawabnya cepat. ?Benar. Saya tahu bahwa 3 x 1 itu sama dengan 3. Dan 1 x 3 juga sama dengan 3. Tapi, secara konsep ini berbeda. 3 x 1 itu apakah 1-nya 3 kali (1+1+1) atau 3-nya satu kali (3)?, tanya saya lagi.

Setelah berpikir sejenak dan mungkin agak kaget karena mendapat pertanyaan yang sangat ?remeh? ini akhirnya ia menjawab, ?Lha, 3 x 1 itu berarti 3-nya satu kali?. ?Ibu yakin dengan jawaban ini?, tanya saya lagi. ?Yakin Pak?, jawabnya. Saya tahu kalau ia tidak yakin dengan membaca bahasa tubuhnya.

?Bu, kalau di resep dokter tertulis 3x1, ini apakah ibu akan memberi anak ibu 3 kapsul sekali minum atau satu kapsul sebanyak 3 x. Satu di pagi hari, satu di siang hari, dan satu di malam hari ??, tanya saya lagi.

Mendengar pertanyaan ini wajahnya langsung merah dan ia tersenyum kecut sambil berkata, ?Ya sudah tentu satu kapsul satu kali minum. Lha kalo tiga kapsul sekali minum anak saya bisa overdosis. Bapak ini nggak tahu atau pura-pura nggak ngerti ??, jawabnya sambil cepat berlalu.

Hal yang tampak remeh ini akan berakibat sangat fatal terutama saat anak duduk di SD kelas 4 dan seterusnya. Saat ini, bila dasar matematika dan bahasanya tidak kuat, maka prestasi akademiknya akan jelek. Prestasi akademik yang buruk, sekali lagi, sangat berpengaruh terhadap Konsep Diri anak. Persis sama seperti hasil penelitian di Spanyol. Konsep Diri yang buruk akan terbawa hingga dewasa dan mengakibatkan anak tidak bisa berprestasi maksimal dalam hidupnya.

Saat anak tidak menguasai konsep yang benar, ditambah lagi kemampuan bahasanya masih minim, lalu anak diberi soal cerita, apa yang terjadi ? Habislah anak kita. Nilainya pasti jeblok. Hal ini, kalau terjadi berulang kali (repetisi), ditambah lagi orangtua atau guru mengatakan dirinya bodoh (informasi dari figur yang dipandang memiliki otoritas), ditambah lagi emosi yang intens yang terjadi dalam diri seorang anak, maka langsung menghasilkan pemrograman pikiran bawah sadar yang sangat powerful. Celakanya lagi, ini program negatip, dalam bentuk Konsep Diri yang buruk.

Lalu apa ciri-ciri anak dengan Konsep Diri yang buruk ? Pertama, anak tidak atau kurang percaya diri. Kedua, anak takut berbuat salah. Ketiga, anak tidak berani mencoba hal-hal baru. Keempat, anak takut penolakan. Dan yang kelima, anak tidak suka belajar dan benci sekolah.

Ada satu buku bagus yang ditulis kawan karib saya, Ariesandi Setyono, yang berjudul ?Mathemagics ? Cara Jenius Belajar Matematika?, yang perlu anda baca. Buku ini menjelaskan secara detil proses pembelajaran matematika yang benar. Aries, dengan cara yang sangat luar biasa , mampu membuat anak didiknya, dengan hati gembira, mengerjakan soal latihan matematika sebanyak 26 (dua puluh enam) halaman non stop. Baru-baru ini Aries kembali mampu membuat anak didiknya, murid SD kelas 1 dan 2, mengerjakan soal-soal latihan matematika selama 120 (seratus dua puluh) menit non stop. Saat diminta berhenti, muridnya malah ngomel dan minta terus. Murid mengerjakan soal dengan hati riang, sama sekali tanpa ada tekanan atau stress. Untuk soal ujian akhir semester, Aries memberikan 200 (dua ratus) soal yang harus dikerjakan muridnya, bukan pilihan ganda. Semua anak mampu mengerjakan hanya dalam waktu rata-rata 45 menit dengan nilai rata-rata kelas 85.

Konsep Diri yang positip sangat penting bagi seorang anak dan juga untuk orang dewasa. Fondasi yang rapuh (Konsep Diri jelek) tidak memungkinkan kita untuk bisa membangun gedung bertingkat (sukses) di atasnya.
Anak dilahirkan dengan potensi menjadi seorang jenius namun proses ?pendidikan? yang salah telah membuat anak tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Saya menamakan kondisi ini sebagai ?idiot?. Kita tidak menyadari potensi diri yang sesungguhnya. Kalaupun kita tahu dan sadar akan potensi ini kita merasa tidak mampu untuk mengembangkannya secara optimal.


Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan , dan Hypnosis: The Art of Subconscious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com

Category:Books
Genre: Childrens Books
Author: DR Reni Akbor Howodi Psi. Fok. Psikolog
Tulisan Ozu rapih dan enak dibaca. Di dalam buku catatan sekolahnya banyak sekali simbol atau gambar daripada kata-kata. Kalau mencari buku bacaan, Ozu akan membolak-batik gambarnya atau penggambaran suasana cerita. Jika membaca atau mendengar kata bunga, dia mencatatnya dengan gambar bunga, atau kata "meningkat" akan ditulisnya berupa tanda panah ke atas. Di kelas dia lebih suka kalau guru menerangkan sesuatu dengan gambar. Bagi Ozu segala sesuatu yang ia dengar, harus ditulis kembali dalam satu daftar. Tak jarang dia membuat titian keledai dengan nama yang mudah diingat untuk mengingat pelajaran.
Sedangkan, buku tulis Gladys lebih banyak halaman kosong dan tulisannya tak cukup rapih. Gladys selalu bilang sudah memahami pelajaran dengan baik, jadi tidak perlu ada catatan. Di dalam kelas Gladys selalu aktif bertanya, ia juga dianggap cermat mendengarkan pelajaran. Di rumah Gladys lebih asyik bermain PS dan selalu membaca ulang komik-komik yang dibeli, sampai hafal dialognya la selalu ingat kata-kata yang didengar?nya. Jangan coba-coba berjanji dengan Gladys, pasti akan dikejarnya.
Lain lagi dengan Fani yang selalu mempraktikkan perkataan guru di kelas. Dia paling suka melakukan percobaan. Semua tugas praktik dalam buku pelajaran dengan antusias dikerjakannya sendiri. Fani semangat bertanya hal apa saja yang ingin diketahuinya untuk bisa dilakukan. Dia paling sering membantu bibi memasak. Ibunya mengaku jarang melihat Fani duduk membaca dan menu?lis terus menerus dengan tertib di dalam kamar.
Orangtua harus menyadari bahwa anak memiliki gaya belajar berbeda untuk mengembangkan potensinya. Mari kita bayangkan bahwa potensi anak berada di dalam satu kotak tertutup. Untuk membuka kotak tersebut, diperlukan kunci. Kunci yang dimaksud adalah bagaimana orangtua dapat memahami gaya belajar anak, sehingga tidak perlu merasa cemas kalau melihat anak tampak santai di rumah karena tidak belajar. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Tiap individu memiliki kekhasan sejak lahir dan diperkaya melalui pengalaman hidup. Yang pasti semua orang belajar melalui alat inderawi, baik penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Psikolog pendidikan menyakini bahwa setiap orang memiliki kekuatan belajar atau modalitas belajar. Semakin kita mengenal baik modalitas belajar kita maka akan semakin mudah dan lebih percaya diri di dalam menguasai suatu keterampilan dan konsep-konsep dalam hidup. Belajar berawal dari rumah! Anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan sentuh. Satu dari tiga saluran inderawi -visual, auditori dan kinestetik- adalah salah satu cara untuk belajar dengan baik. Salah satu faktor yang mempengaruhi cara belajar anak adalah persepsi, yaitu bagaimana dia memperoleh makna dari lingkungan. Persepsi diawali lima indera: mendengar, melihat, mengecap, men?cium,dan merasa.Didunia pendidikan, istilah modalitas mengacu khusus untuk penglihatan, pendengaran, dan kinestetik. Modalitas visual menyangkut penglihatan dan bayangan mental. Modalitas pen?dengaran merujuk pada pendengaran dan pembicaraan. Modalitas kinestetik merujuk gerakan besar dan kecil. Salah satu tanda mengenali gaya bela?jar seseorang melalui kalimat yang ia gunakan. Tipe visual akan bicara misalnya, " Mama, lihat muka Indri dong jika mau bicara sesuatu." Bu Guru bisa melihat apa yang aku maksudkan barusan?" Sedang?kan, tipe auditori mengatakan, "Mama, dengerin, aku mau cerita:'Tipe kineste?tik cenderung berbicara sangat singkat, bahkan tanpa komentar apapun. Tanpa disadari gaya belajar mempenga?ruhi seseorang memilih tempat duduk. Tipe visual lebih memilih duduk di baris depan. Tipe auditori cenderung duduk di tengah-tengah. Tipe kinestetik, lebih memilih duduk di sebelah kanan, dekat pintu. Mereka akan segera melarikan diri jika merasa tidak perlu mendengarkan. Apa yang bisa dibantu orangtua? Dengan memahami gaya belajar anak berarti akan membuat anak lebih bahagia. Karena respons orangtua terhadap kebutuhan dirinya tepat. Bagi anak dengan gaya belajar kinestetik, maka orangtua atau guru diharap pula aktif bersikap fisik.Anak tak mau buang waktu untuk bicara dan cenderung langsung pada apa yang harus dikerjakan. Anak sangat energik dan selalu nomor satu berdiri di depan barisan. Jika mendengarkan musik, dia bergoyang sesuai irama. Jika diajak jalan-jalan, tangannya mencoba menyen?tuh apa saja. Pilih mainan roda dua, tali lompat, bola, cat air, clan dough. Anak juga suka main drama. Penegakkan disiplin tak cukup hanya verbal, karena tak berpengaruh. Perlu digunakan cara time out. Anak tipe auditori terlihat gemar bicara. Di kelas sering mengganggu anak lain dengan teriakan dan cerita-ceritanya. Anak ini pencinta musik apa saja. Pilih berbagai macam CD dan alat musik main?an. Beri kesempatan sebanyak mungkin untuk bicara, menyanyi, mendengarkan, dan berteriak. Penegakan disiplin cukup dengan kata-kata. Gunakan dialog dan tatap muka untuk menjelaskan masalah yang perlu menjadi perhatiannya.
Anak tipe visual tampak terpaku dalam mengamati sesuatu. Dia penuh rasa ingin tahu terhadap hal baru. Orangtua dapat memberikan kesempatan melalui gambar-gambar. Berbagai perlengkapan seperti papan tulis, krayon, cat air, spidol, gunting clan lem bisa disiapkan untuknyz Termasuk main-an boneka-boneka yang dapat diganti pakaiannya. Disiplin ditegakkan dengan mengacu pada orangtua. Mereka tidak membutuhkan
perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh perbuatan orangtua. Hadiah cukup dengan senyum lebar, dan ekspresi orangtua terhadap kegiatan mereka.
Peraturan bagi orang tua :
1. Sadari tipe gaya belajar anak. Tipe kinestetik, visual, auditori atau kombinasi.
2. Sadari tipe gaya belajar diri. Orangtua bisa saja memiliki gaya belajar berbeda dengan anaknya.
3. Penuhi anak dengan kesempatan agar dia berhasil dalam modalitas yang dimilikinya.
4. Disiplin dan beri hadiah sesuai dengan gaya belajarnya.
5. Selalu melihat posisi terbaik yang dimiliki anak untuk dikembangkan.
6. Bantulah anak menggunakan strategi modalitas untuk menguasai berbagai keterampilan clan konsep lainnya.--*

Karakteristik Gaya Belajar

Visual

Gaya, Belajar melalui pengamatan: mengamati peragaan
Membaca, Menyukai deskripsi, sehingga seringkali ditengah-tengah membaca berhenti untuk membayangkan apa yang dibacanya.
Mengeja, Mengenali huruf melalui rangkaian kata yang tertulis
Menulis, Hasil tulisan cenderung baik, terbaca jekas dan rapi.
Ingatan, Ingat muka lupa nama, selalu menulis apa saja.
Imajinasi, Memiliki imajinasi kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada.
Distraktibilitas, Lebih mudah terpecah perhatiannya jika ada gambar.
Pemecahan, Menulis semua hal yang dipikirkan dalam suatu daftar.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Jalan-jalan melihat sesuatu yang dapat dilihat.
Respon untuk situasi baru, Melihat sekeliling dengan mengamati struktur.
Emosi, Mudah menangis dan marah, tampil ekspresif
Komunikasi, Tenang tak banyak bicara panjang, tak sabaran mendengar, lebih banyak mengamati.
Penampilan, Rapi, paduan warna senada, dan suka urutan.
Respon terhadap seni, Apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen, daripada karya secara keseluruhan.


Auditori

Gaya, belajar melalui instruksi dari orang lain
Membaca, Menikmati percakapan dan tidak memperdulikan ilustrasi yang ada
Mengeja, Menggunakan pendekatan melalui bunyi kata
Menulis, Hasil tulisan cenderung tipis, seadanya
Ingatan, ingat nama lupa muka,ingatan melaui pengulangan.
Imajinasi, Tak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.
Distraktibilitas, Mudah terpecah perhatiannya dengan suara.
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui lisan.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Ngobrol atau bicara sendiri.
Respon untuk situasi baru, Bicara tentang pro dan kontra.
Emosi, Berteriak kalau bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada.
Komunikasi, Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan.
Penampilan, Tak memperhatikan harmonisasi paduan warna dalam penampilan.
Respon terhadap seni, Lebih memilih musik. Kurang tertarik seni visual, namun siap berdiskusi sebagai karya secara keseluruhan,tidak berbicara secara detil dan komponen yang dilihatnya.


Kinestetik

Gaya, Belajar melalui melakukan sesuatu secara langsung
Membaca, Lebih memiliki bacaan yang sejak awal sudah menunjukkan adanya aksi.
Mengeja, Sulit mengeja sehingga cenderung menulis kata untuk memastikannya
Menulis, Hasil tulisan "nembus" dan ada tekanan kuat pada alat tulis sehingga menjadi sangat jelas terbaca.
Ingatan, Lebih ingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan.
Imajinasi, Imajinasi tak terlalu penting, lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.
Distraktibilitas, Perhatian terpecah melalui pendengaran
Pemecahan, Pemecahan masalah melalui kegiatan fisik dan aktivitas.
Respons terhadap periode kosong aktivitas, Mencari kegiatan fisik bergerak.
Respon untuk situasi baru, Mencoba segala sesuatu dengan meraba, merasakan dan memanipulasi.
Emosi, Melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi.
Komunikasi, Menggunakan gerakan kalau bicara, kurang mampu mendengar dengan baik.
Penampilan, Rapi, namun cepat berantakan karena aktivitas yang dilakukan
Respon terhadap seni, Respons terhadap musik melalui gerakan. Lebih memiliki patung, melukis yang melibatkan aktivitas gerakan.

ReviewMenengok Metode Mengajar Sekolah ElitDec 26, '07 10:40 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:listi/adek/defan purnama/nunuy/andi
Menengok Metode Mengajar Sekolah Elit

Tulisan itu ada di setiap pintu kelas. Learning, playing, laughing and having fun..., why not? Let's do it.. Terbuat dari bahan karton warna-warni, siapapun yang membaca seperti diajak untuk rileks. Itulah salah satu upaya SD Al Azhar Syifa Budi untuk menepis kesan bahwa belajar adalah kegiatan yang menyeramkan.

Terletak di kawasan elit Kemang, Jakarta Selatan, sekolah ini menjadi salah satu incaran warga ibukota. Tentu saja mereka tahu biaya untuk memperoleh satu kursi di sekolah ini tidaklah sedikit. "Tetapi itu sudah kewajiban saya sebagai orang tua. Itu tandanya pendidikan sangat penting (bagi anak-anak)," ujar Elfina, salah satu orang tua yang menyekolahkan anaknya di sini.

Elfina dan elfina-elfina yang lain tentu tak asal pilih. Mereka yakin metode pengajaran di sekolah pilihan bakal menggembleng anaknya untuk mampu bertahan di masa depan. Maklum, masa depan ibarat hutan lebat, tak ada yang pernah tahu isinya, tapi bisa dirasakan ganasnya persaingan untuk bertahan hidup.

"Sekolah ini melaksanakan kurikulum terintegrasi (integrated curicculum) yang berdiferensiasi, berwawasan internasional, antisipatoris, dan humanistis," ujar Ketua Yayasan Syifa Budi, Maulwi Saelan. Dengan kalimat yang sederhana: mereka memadukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dari Diknas dengan kurikulum Departeman Agama, "Dan, ditambah kurikulum yang kami bikin sendiri."

"Kurikulum sendiri" itu diadopsi dari Singapura, Malaysia, dan Afrika Selatan. Tambahan dari luar negeri itulah yang menyebabkan munculnya unsur 'berdiferensiasi'. Agar proses pembelajaran berlangsung efektif, untuk satu kelas hanya diisi 15 murid.

Adopsi dari kurikulum luar negeri juga dilakukan SD Global Jaya. Menurut Kenneth J. Cock, Kepala Sekolah yang terletak di Pondok Aren, Tangerang, itu, mereka mengadopsi dari kurikulum Amerika Serikat dan Australia. "Tetapi sekolah ini tetap mendapat akreditasi dari Departemen Pendidikan Nasional," katanya. Global Jaya juga mendapat akreditasi dari Amerika dan Australia. Sementara untuk menyampaikan materi, 60 presen digunakan bahasa Inggris dan sisanya bahasa Indonesia.

Tentu ada alasan khusus mengenai pemilihan kurikulum di atas. "Kurikulum itu menekankan bagi guru, yakni bagaimana kita mengajar murid, dan bukan apa yang diajarkan," katanya. Bagi siswa, kurikulum mengajarkan bagaimana cara mengatasi masalah (problem solving), menggali kreatifitas, dan kemampuan berfikir. Kenneth menegaskan kurikulum tersebut sekaligus mendekatkan murid pada teknologi. "Karena mereka harus mempergunakan internet untuk riset dan lain sebagainya."

Penggunaan bahasa Inggris agaknya dipandang sebagai salah satu nilai plus yang mesti ada dalam sekolah-sekolah mahal ini. Di Sekolah Berwawasan Internasioal (SBI) Madania, misalnya, bahasa Inggris digunakan sebagai alat pengantar bersama bahasa Indonesia. "Sejak SD siswa diharap sudah lancar bahasa Inggris," ujar Anggie S Anggari, konspetor pendidikan SBI Madania yang membawahi kepala sekolah SD, SMP, dan SMU.

Sementara, kata dia, metode pengajaran yang digunakan mengutamakan active learning, yakni siswa didorong bekerja mandiri dan dirangsang memperluas ide dan pengetahuannya. Dalam prakteknya, siswa akan ditata dalam kelompok-kelompok kecil (grouping) yang diawasi guru. Pengajar pun hanya bertindak sebagai fasilitator.

Metode seperti itu bahkan sudah dilakukan sejak TK. "Kita betul-betul ingin anak aktif, dan bukan pembelajaran satu arah," kata Kepala Sekolah TK Madania, Menuk Teguh Riyati. Lalu untuk proses pembelajarannya dilakukan secara Fun Explore Activity. "Setiap anak diberi kesempatan eksplorasi sehingga kreativitas terbangun dan anak tidak merasa stress."

Kurikulum TK tetap mengacu pada Departeman Pendidikan Nasional karena memang sudah keharusan. Tetapi hal itu masih diperkaya dengan kurikulum anak usia dini (Early Childhood Curriculum) yang diadaptasi dari beberapa negara asing, seperti Inggris, Australia dan Amerika. "Pemilihan tema juga kita adaptasi dari luar. Misalnya tema tentang My Self atau Aku," Menuk menandaskan.

Pada pokoknya, seluruh materi dirangkum dalam pengajaran bahasa (language), seni dan kerajinan (art and craft), ilmu pengetahuan dan memasak (science and cooking), olah raga (sport and swimming), agama, dan moral. Madania juga menekasnkan rasio guru-murid yang ideal. Untuk preschool satu guru mengawasi lima anak, sedang TK, satu banding 10.

Ada lagi sebuah TK yang digandrungi warga Jakarta Selatan, yakni TK Kepompong di Jalan Bangka. Metode pengajaran TK ini disusun sesuai dengan teori perkembangan anak. "Kita lihat kebuutuhan anak seperti apa, lalu kita buat programnya," ujar Candi Rasidy, Kepala Sekolah Taman Bermain Kepompong

Menurut Candi, sistem pendidikan yang baik adalah apabila hasilnya berlaku di masyarakat dimana anak itu tinggal. Itulah sebabnya TK Kepompong tidak berambisius mengadopsi metode luar negeri. Dia mengakui ada metode yang dicontoh, yakni Montessory. "Tapi dalam pelaksanaan tidak murni montesorry," kilah dia. Kepompong memiliki tim kurikulum sendiri. "Tim itulah yang mendesain kurikulum kita."

Anak-anak, kata Kahlil Gibran, bukanlah mili para orang tua. Dia adalah anak panah yang akan melesat ke depan. Adakah sekolah merupakan busur yang tepat?--listi/adek/defan purnama/nunuy

ReviewReviewKualifikasi Guru SD Harus S1?Dec 26, '07 10:28 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Paul Suparno, Rektor Universitas Sanata
Kualifikasi Guru SD Harus S1?

Oleh Paul Suparno

DALAM Rancangan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) dan dikuatkan dengan penjelasan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) di depan DPR, diusulkan agar guru sekolah dasar (SD) nanti harus lulusan Strata 1 (S1). Atas usulan itu, muncul tanggapan pro dan kontra.

Tulisan ini ingin menambahkan beberapa gagasan. Alasan kuat apa bahwa guru SD sebaiknya lulusan S1, alasan kontra dan jalan keluar apa yang dapat diambil.

Ada banyak alasan mengapa guru SD mendatang sebaiknya berkualifikasi S1, bukan lagi Diploma 2 (D2). Pendidikan dasar merupakan dasar untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Maka agar pendidikan selanjutnya baik, pendidikan dasar harus sungguh kuat. Untuk memperkuat dasar itu, antara lain penjelasan konsep pengetahuan pada level SD harus benar dan tidak salah.

Menurut teori konstruktivisme, kesalahan konsep yang diajarkan di SD banyak menghambat perkembangan konsep anak selanjutnya. Pengalaman salah konsep pada level SD, karena dianggap benar oleh siswa, diyakini sebagai yang benar dan dipegang teguh. Akibatnya, kesalahan itu dibawa terus dalam jenjang selanjutnya sehingga menghambat kemajuan. Misalnya, salah ucapan dalam mengajar bahasa Inggris akan terbawa terus dan sulit dibenarkan.

***

DARI pengamatan di lapangan, banyak guru SD yang mengajarkan konsep keliru, misalnya bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA). Ini menimbulkan kesulitan dalam pembenahan konsep berikutnya di jenjang tinggi. Agar salah konsep pada awal itu tidak banyak terjadi, dibutuhkan guru yang sungguh menguasai bahan ajar di SD.

Dari pengalaman, pendidikan guru D2 yang hanya dua tahun setelah SMU, ternyata tidak mencukupi untuk menguasai bahan, terutama untuk mempunyai konsep-konsep yang benar. Hal ini dikuatkan lagi karena mereka yang masuk Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) bukan siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) yang tinggi daya kognitifnya, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menangkap dan menguasai bahan.

Siswa SD masih belum seimbang emosinya, masih membutuhkan perhatian jauh lebih besar, masih membutuhkan bimbingan secara pribadi yang lebih baik. Untuk dapat mendampingi anak-anak yang masih berkembang ini, dibutuhkan guru yang sungguh seorang pendidik dan dewasa. Guru yang tahan emosi, yang seimbang, yang dapat memberi contoh sikap baik.

Kedewasaan pribadi amat dibutuhkan, sehingga siswa dibantu secara nyata untuk mengembangkan kepribadiannya. Dibutuhkan guru yang mengerti perkembangan anak dengan segala persoalannya.

Dari pengamatan, guru lulusan D2 ternyata banyak yang belum matang secara emosi dan kepribadian. Banyak dari mereka masih remaja, sehingga dalam menghadapi siswa kurang dewasa dan kurang seimbang. Tampaknya dibutuhkan waktu lebih lama untuk membantu calon guru menjadi dewasa dan bersikap dewasa.

Untuk dapat membantu daya kreatif dan perkembangan anak SD yang lebih cepat, terutama dalam segi kognitif, dibutuhkan pendidik yang kreatif, inovatif, menguasai banyak metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan, situasi, dan inteligensi anak. Menurut teori multiple intelligences Gardner, anak akan dapat dibantu mengerti lebih baik bahan yang disampaikan, bila disampaikan sesuai dengan inteligensi yang menonjol pada anak.

Padahal, inteligensi anak dapat berbeda-beda. Maka guru perlu menguasai banyak metode mengajar yang cocok dengan inteligensi siswa yang bermacam-macam itu.

Kecuali mengerti metode yang bermacam-macam, guru harus dapat menggunakan metode itu. Jadi, harus menguasai dalam praktik. Maka diperlukan latihan yang tidak cepat. Jelas dua tahun persiapan calon guru tidak cukup.

Banyak calon guru, yang masuk PGSD, saat di SMU tidak bercita-cita menjadi guru SD. Karena terpaksa, akhirnya mereka masuk PGSD. Jadi minat dan motif awalnya bukan untuk menjadi guru.

Apalagi pada waktu di SMU mereka sungguh bebas tanpa persiapan apa pun untuk jadi guru. Mereka masih lebih sebagai anak bebas, yang ingin mencari kemauannya sendiri. Tampaknya untuk menumbuhkan minat menjadi guru dan sikap sebagai guru tidak cukup waktu dua tahun, lebih-lebih karena mereka sejak awal bukan mau menjadi guru. Dibutuhkan waktu lama untuk menumbuhkan minat, motivasi, dan kecintaan pada anak-anak.

Dari beberapa alasan mendasar itu, tuntutan kualifikasi guru SD harus S1 diharapkan akan memperbarui mutu pendidikan di SD, lalu ikut memperbaiki kualitas pendidikan di jenjang berikut. Maka usulan itu lebih memberi harapan bagi pendidikan Indonesia di masa depan.

Namun, dengan usulan diharuskannya guru SD lulusan S1, muncul persoalan nyata di lapangan yang tidak ideal. Pertama, kini masih banyak guru SD yang bukan S1 bahkan belum D2. Mereka butuh waktu lama untuk dapat menyesuaikan dengan tuntutan itu.

Kedua, masih banyak daerah yang kekurangan guru SD; jangankan guru lulusan S1, lulusan D2 saja tidak ada. Bila syarat menjadi guru begitu tinggi maka makin tidak ada yang mau menjadi guru di daerah.

Ketiga, meski diberi kesempatan untuk menyesuaikan tingkat pendidikannya ke S1, tidak semua guru yang sudah bekerja, secara pengetahuan, mampu menyelesaikan S1, karena tidak semua orang dapat menyelesaikan jenjang sarjana. Apalagi masih harus dipikirkan biaya begitu besar untuk kuliah lagi.

Keempat, kini masih banyak lulusan D2 PGSD yang belum mendapatkan penempatan. Mereka mau dikemanakan? Apakah harus menyelesaikan S1 dulu sebelum bekerja?

Kelima, bila guru SD adalah lulusan tingkat sarjana, maka penggajian perlu disesuaikan. Bila gaji mereka tetap kecil, siapa yang mau? Apalagi setelah mengeluarkan biaya besar untuk kuliah.

***

DAERAH-daerah di Indonesia begitu majemuk, ada yang maju seperti Jakarta dan beberapa kota besar, kurang maju seperti di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk Jakarta, tuntutan S1 untuk guru SD amat mungkin bahkan sudah mulai dipraktikkan di beberapa yayasan. Namun di daerah, yang bahkan tidak ada guru, tuntutan untuk S1 tidak realistis dan tidak masuk akal untuk jangka waktu beberapa tahun ini. Mencari guru D2 saja sulit, apalagi S1.

Lalu bagaimana sebaiknya? Tampaknya, ketegangan itu harus ada. Ketegangan akan arah kemajuan, yaitu menaikkan kualifikasi guru SD menjadi S1, demi masa depan pendidikan SD yang lebih baik dan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik. Namun di beberapa daerah, tampaknya masih harus memenuhi kebutuhan jumlah guru lebih dulu, sebelum mencapai tuntutan S1.

Dalam era otonomi daerah, tampaknya dimungkinkan ada perbedaan tuntutan dalam hal kualifikasi guru SD. Maka agar ide untuk makin mempermutu SD dengan mempermutu guru dapat terwujud, dan masih memberi kesempatan daerah yang belum mampu, beberapa usulan dapat diajukan.

Pertama, untuk kota-kota dan daerah yang sudah relatif maju, guru baru untuk SD harus lulusan S1. Kedua, untuk daerah yang masih belum sangat maju, diperbolehkan tetap dengan D2, namun mereka setiap tahun diberi tambahan pengetahuan agar terus maju. Syukur dapat dibantu sampai lulus S1.

Ketiga, agar proses S1 menjadi lebih cepat, maka dibuka kuliah S1 PGSD di beberapa tempat yang memungkinkan calon dan guru meneruskan kuliah lagi. Program D2 yang ada kini perlu dikurangi atau ditutup, dikembangkan menjadi S1, sehingga mahasiswa yang sedang kuliah D2 tidak dirugikan.

Keempat, pemerintah perlu membantu pembiayaan untuk guru-guru yang sudah bekerja yang ingin kuliah lagi sampai S1. Dapat dengan sistem beasiswa, dan setelah lulus kembali ke sekolah lagi. Yayasan swasta dapat melakukan hal ini juga.

Kelima, untuk mereka yang tidak mungkin dalam waktu 10 tahun mencapai S1, biar tetap menjadi guru. Mereka dapat disetarakan dengan tingkat tertentu, tetapi tidak disetarakan dengan sarjana.

Keenam, setelah beberapa tahun maka yang dapat naik jejang menjadi kepala sekolah harus minimal S1 dan yang lain menjadi guru bantu, asisten guru.

Gagasan untuk mengembangkan kualifikasi guru SD harus S1 sungguh baik karena akan memajukan mutu pendidikan kita terutama karena akan memberi dasar pada jenjang SD. Diharapkan jenjang berikutnya juga semakin baik.

Persoalannya, apakah mungkin dalam suatu undang-undang diberi batasan tertentu? Misalnya, untuk kota besar atau daerah yang mampu diharuskan, sedangkan tidak mengikat untuk daerah yang belum mampu? Bila ini mungkin, maka persoalan mencantumkan S1 pada undang-undang tidak menjadi soal besar bahkan memberikan harapan kemajuan.

Paul Suparno, Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

ReviewReviewAku Takut Menikah Karena Belum.... Dec 21, '07 1:12 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:Andi Anugrah
Aku Takut Menikah Karena Belum....
1. Belum Bekerja
Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak. "mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?" Begitulah perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.
Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi seluruh anggota keluarga adalah tangging jawabnya. Rasulullah bersabda, yang artinya, "Bertaqwalah kepada Allahdalam memperlakukan wanita. Sebab kamu mengambilnya dengan amanat allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan cara yang baik." (HR.Muslim)
Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamuyang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Surat An-Nur : 32)
Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata banyak tawaran kerja dan peluang kerja.
Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.
Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung, juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima bekerja sesuai bidang yang dipelajari.
2. Belum Lulus
Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk menikah gara-gara belumlulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.
Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping hidup baru bisa menambah semangat utuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab apa yang menjadi pilihan hidupnya.
Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan pelajaran.
Pusing....? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri. Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu kesulitannya.
3. Belum Cocok
Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula, padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan. yang jadi ertimbangan dasar dan awal tetntu saja faktor agama, yaitu aqidah dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :
"Mereka (perrempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka." (Al-Mumtahanah : 10)
Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)." (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya, warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya...dan lain-lain.
Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan, pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.
Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya,
"Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain." (HR.Muslim)
Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya. Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.
4. Belum Mantap
Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi, baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah 'belum' di atas.
Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga 'belum' di atas, karena memang dia merasa belum siap dan belum mampu.
Solusinya tidak lain adalah mementapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya. Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.


ReviewReviewKado pernikahanDec 21, '07 1:09 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M
Kado Pernikahan (Kue untuk Dodo dan Elisa)
Walaupun resepnya sudah agak lama, tapi masih enak kok kl di angetin lagi dalam oven.
Resep kue ini untuk sahabatku Dodo dan Elisa yang akan menggenapkan setengah dien-nya. Semoga keberkahan terlimpah atas kalian berdua dan doakan semoga aku bisa segera menyusul.
________________________________________

Bagi yang sudah menikah, kue perkawinan ini diperlukan untuk mengingatkan & direnungkan.

Bagi yang belum menikah kue ini untuk bahan masukan, supaya jangan salah adonan.

Silahkan mencoba !!!


KUE PERKAWINAN

Bahan :

1 pria sehat,
1 wanita sehat,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

Bumbu:

1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sendok teh telpon-telponan,
5 kali ibadah/hari

Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.

Tips:

- Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
- Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)

- Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.

- Gunakan Kasih sayang cap "DAKWAH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.

Cara Memasak:

- Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
- Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
- Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan penghulu.
- Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.
- Kue siap dinikmati.

Catatan:

Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek "Tempat Ibadah".

Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!.












Untuk Ukhti Tersayang
prayoga.net - Dear Ukhti………
apa kabar imanmu hari ini
semoga selalu menapak maju
apa kabar hatimu hari ini
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
apa kabar cintamu hari ini
semoga selalu berpeluh rindu pada Nya...

Ukhti..
sungguh indah hidup setelah menikah
apa yang sebelumnya haram menjadi halal
semua perbuatannya mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya
suka duka dilalui berdua
senang sedih ada yang menemani
tawa tangis pun bersama

Ukhti..
menikah adalah setengah dien
dan ia menggenapkan dien menjadi satu
sungguh, menikah seperti melihat dunia lain yang tiada pernah
dikunjungi sebelumnya
apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah kini tidak lagi
seakan membuka mata kanan yang sebelumnya belum pernah dibuka
begitu luas, begitu indah, hingga Rasul pun menyunnahkan suatu
pernikahan ini
"bukan termasuk ummatku, jika ia berkeinginan tidak menikah..."

Ukhti..
menikah adalah keputusan besar dari suatu perjanjian berat
pernah ada yang berkata..
"saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang karena suatu perjanjian
berat diucapkan, karena itu saat akad terjadi ada tangis disana..tangis
suka, tangis duka..."
Allah menjadi saksi karena Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap
dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini

Ukhti..yang sedang menanti "terkasih"
nanti-lah dengan sabar
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu
siapkan dirimu, hatimu..
sangat mudah bagiNya memberikan "terkasih" untukmu ataupun tidak
berharap dan mintalah padaNya..
pemilik alam raya dan pencipta "terkasih"mu

Ukhti..yang sedang menjelang akad
berdoa-lah selalu padaNya
penentu segalaNya...
mohon petunjukNya jika "terkasih" adalah yang terbaik untukmu
kemudahan, juga kelancaran dalam peristiwa besar nanti
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu..
siapkan dirimu, hatimu..

Ukhti..yang telah menikah
jagalah nikmatNya yang besar ini
hanya dengan izinNya dirimu dan "terkasih"mu bersatu, tiada yang lain
jadilah penyejuk hati dan pandangannya..
menjadi istri sholehah dambaan..

Ukhti..
bahagiamu adalah bahagiaku
sedihmu juga sedihku
tawamu, tawaku juga
tangismu adalah tangisku
semoga Allah Yang Maha Indah,
memudahkan langkah ini..
memberikan yang terbaik menurutNya
dan menjadikan wanita dan istri juga ibu sholehah
















Ketika Ikhwah Jatuh Cinta

Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas'ul dakwahnya, "akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan". Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya."Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi dan….Afwan, terus terang juga tersinggung." Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan….ia jatuh cinta pada ana."

mas'ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. "Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan." Sang mas'ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

"Afwan…ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini." sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

"Ya sudah…Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini". Mas'ul itu membuat keputusan, "ana akan ajak bicara langsung akh fulan"

Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas'ul tersebut mendatangi dulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, "Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?"

Sang mas'ul berusaha menanggapinya searif mungkin. "Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan?. Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????" Mas'ul tersebut membuat penekanan substansial. " Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan
jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan."

Cinta Aktivis Dakwah
Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki? Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktivis
dakwah bukan perkara sederhana.

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta `lain' muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yg jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini," …akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata saya…..daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yg berdiri sendiri.."

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yg sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta??? jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak potret keluarga yg baru dalam masyarakat yg kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik `asing' dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan `misteri. Pertanyaan sederhana, "Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?", dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan `Nikah dulu baru pacaran' masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, "Bagaimana caranya, emang bisa?". Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan,
bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog
Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, warahmah. jadi…sudah berani jatuh cinta…??
wallahu'alam

diambil dari majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M
________________________________________


ReviewReviewReviewShalat istikharah untuk menentukan pilihanDec 21, '07 1:05 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:By puji
Shalat istikharah untuk menentukan pilihan
Saudara dan saudariku yang budiman, pernikahan adalah ikatan yang mempertalikan antara kedua pasangan suami-isteri. Memperhatikan supaya memilih isteri atau suami yang tepat adalah fase terpenting dalam permulaan pernikahan, dan dalam hal ini diperlukan kesungguhan yang mendalam untuk mendapatkan suami atau isteri yang tepat dari segala aspeknya. Siapa yang ingin ni'kah, hendaklah dia memilih pendamping hidupnya dengan
pilihan yang berlandaskan pengetahuan dan pemikiran yang kukuh serta sangat bersungguh-sungguh untuk beristikharah kepada Allah, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah kepada kita. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Jabir ra, ia menuturkan: Rasulullah mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur-an:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعِيشَتِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعِيشَتِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ
`Jika salah seorang dari kalian menghendaki suatu perkara, maka shalatlah dua rakaat dari selain shalat fardhu, kemudian hendaklah mengucapkan: 'Ya Allah, aku beristikharah kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta penilaian-Mu dengan kemampuan-Mu dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang sangat besar. Sesungguhnya Engkau kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku -atau urusan dunia dan akhiratku-, maka putuskanlah dan mudahkanlah urusan ini untukku, kemudian berkahilah untukku di dalamnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa itu buruk bagiku, baik dalam urusan agamaku, kehidupanku maupun kesudahan urusanku -atau urusan dunia dan akhiratku- maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya serta putuskanlah yang terbaik untukku di mana pun berada, kemudian ridhailah aku dengannya.' Dan hendaklah is menyebutkan hajatnya.'' (HR. Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya)

Di sini ada beberapa perkara penting yang wajib kita perhatikan:
1. Istikharah dilakukan setelah menunaikan shalat dua rakaat selain shalat shalat fardhu (Tahiyyatul Masjid, atau setelah shalat sunnah lainnya).

2. Do'a istikharah dilakukan setelah shalat, bukan di dalam shalat.

3. Boleh mengulang-ulang istikharah, karena ini adalah do'a, dan mengulang-ulang do'a adalah dianjurkan.

4. Sebagian orang menyangka bahwa setelah melakukan shalat Istikharah, seseorang akan melihat sesuatu dalam mimpinya. Hal ini tidak berdasar. Pada prinsipnya, jika seseorang telah melakukan shalat Istikharah, hatinya menjadi tenang dengan pilihannya, maka tujuan istikharah telah terpenuhi. Bukan seperti yang diduga sebagian orang bahwa jika seseorang tidak bermimpi, maka dia harus mengulangi istikharahnya lagi hingga ia bermimpi.

5. Shalat Istikharah hukumnya dianjurkan, bukan wajib.

6. Ibnu `Umar radhiallahu’anhuma berkata: Seseorang benar-benar beristikharah kepada Allah Ta'ala, lalu Dia menjadikan baik pilihannya itu, kemudian dia kesal kepada Rabb-nya, Namun tidak berapa lama kemudian dia melihat bahwa kesudahan yang baik telah dipilihkan untuknya (oleh Allah).'


Referensi:
Panduan Lengkap Nikah dari A sampai Z, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin 'Abdir Razzaq. Pustaka Ibnu Katsier

ReviewReviewtips meredam marahDec 21, '07 1:05 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:andi anugrah
Tips Meredam Marah


Marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).

DAlam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (H.R. Malik).
Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.

Cara-cara meredam atau mengendalikan kemarahan:

1. Membaca Ta'awwudz. Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A'uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).

2. Berwudlu. Rasulullah bersabda Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).

3. Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakanKalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah (H.R. Abu Dawud).

4. Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).

5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuahhadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi)

ReviewReviewReviewWah bebas uy.....Dec 21, '07 1:01 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Teens
Author:Mastufah-Ilkom UPI
27 April 2007 - 09:50 Wah,Bebas Euy!
Bila kita mencermati dunia remaja tentu tidak asing lagi dengan istilah ‘kebebasan’ atau freedom. Kebebasan diartikan sebagai bebasnya memenuhi kebutuhan tanpa terikat dengan aturan. Ide kebebasan yang ditawarkan Barat berakar dari pandangan hidup kapitalisme-sekuler. Dimana ide kebebasan itu telah banyak diadopsi oleh remaja di Indonesia yang mayoritas Muslim. Dengan adanya kebebasan itu, seolah-olah hukum atau aturan yang diberlakukan ditengah-tengah masyarakat menjadi semu. Atau kah hukum yang diterapkan mulai longgar? Sehingga para remaja dengan mudahnya melakukan seabrek kebebasan.
Atas dasar kebebasan berekspresi, para remaja mulai meniru gaya hidup Barat yang serba bebas. Dugemlah, ngedrugs, ngedate, free seks, pornografi sampai pornoaksi yang bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan bahkan dilakukan. Pemujaan terhadap artis pun bukanlah hal yang asing lagi di kalangan remaja. Tidak heran bila kebanyak remaja saat ini berlomba-lomba meniru gaya hidup para artis. Mereka rela berkorban baik tenaga ataupun materi sekalipun. Para selebritis lebih mereka kenal daripada Nabi Muhammad sebagai teladan umat, mereka lebih menyukai musik-musik Barat daripada mendengarkan dan membaca ayat-ayat Al-Quran. Remaja sering digambarkan sebagai usia dimana manusia bisa ditolerir untuk melakukan banyak pelanggaran terhadap norma baku masyarakat. Yang akhirnya tanpa pikir panjang mereka bebas mencoba hal-hal yang cenderung negatif itu.
Apalagi, tersedia fasilitas yang mendukung kearah sana. Dengan adanya kebebasan pers, media massa dengan bebasnya menerbitkan berita-berita yang dapat memberi rangsangan negatif bagi perilaku remaja saat ini. Media-media porno dengan bebasnya tersebar dimana-mana. Televisi merupakan media yang memberikan akses yang besar terhadap perilaku remaja. Kita bisa lihat tayangan-tayangan sinetron atau film remaja yang telah menjurus kepada gaya hidup seks bebas (Masya Allah !), dan banyak bermunculan acara-acara TV untuk remaja yang memuat hal-hal yang dianggap sebagai kebebasan bertingkah laku mereka. VCD-VCD porno yang bercerita tentang gaya hidup seks bebas remaja dengan mudahnya didapatkan oleh para remaja. Radio-radio pun tak kalah gencarnya dalam mengekspos dunia remaja dengan kehidupan bebasnya, situs-situs porno dengan mudah dapat diakses oleh para remaja. Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya dari perilaku negatif remaja saat ini.
Hal ini tentu saja dimanfaatkan dengan baik oleh pihak Barat untuk menghancurkan Islam. Banyak upaya yang dilakukan oleh pihak Barat dalam mencengkram remaja Muslim. Mereka ingin mencetak remaja Muslim seperti remaja Barat yang kehidupan sosialnya bobrok. Namun, mereka gambarkan kehidupan remajanya sebagai kehidupan yang glamour dan indah yang memang sesuai buat having fun. Mereka tunjukkan bahwa kehidupan para remajanya layak ditiru oleh remaja Muslim, tentu saja mereka berikan sejumlah perangsang bahwa kehidupan remaja itu indah dan harus dinikmati. Sampai-sampai ada istilah “Mumpung masih muda, kapan lagi bersenang-senang.” (Wah… gimana bila maut menjemput sahabat pada saat seperti itu?)
Belum lagi didukung dengan fasilitas yang tersedia, tentu saja memuluskan jalan mereka. Kondisi ini mempermudah para pencari uang (siapa lagi kalau bukan para kapitalis) yang memanfaatkan para remaja sebagai sumber investasi mereka dengan meninabobokan dan menyuguhkan hal-hal yang baru yang lebih praktis dan ‘enak’ dilakukan, bahkan menjadi fasilitator bagi remaja untuk mencoba hal-hal tadi dengan dalih kebebasan berekskspresi atau seni sekalipun. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits :
“Akan tiba suatu zaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata. Kiblat mereka hanya urusan wanita (seks), dan agama mereka adalah harta mas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah SWT.” (HR. Ad Dailami)

Anehnya, kaum Muslim sendiri malah menyambutnya dengan tangan terbuka. Ekses yang nyata dari kebebasan ini adalah meningkatnya tindakan kriminalitas seperti pemerkosaan, aborsi, bunuh diri, pembunuhan pasangan tak resminya (alias pacarnya) karena mengandung, dan tindakan kriminalitas lainnya. Masih banyak dampak negatif dari kebebasan berekspresi. Tidak ada sama sekali dampak positif dari kebebasan ini.
Lantas bagaimana kita harus bersikap, apakah akan menerima kebebasan yang disodorkan oleh pihak Barat yang jelas-jelas memberikan dampak yang negatif? Perlu kita ingat, kita adalah remaja Muslim yang dalam agama kita telah diatur bagaimana caranya mengekspresikan diri. Islam memandang bahwa kebebasan adalah bebas dari aturan yang membelenggu terhadap pelaksanaan hukum Allah. Sebagai Muslim kita dituntut untuk selalu terikat dengan hukum Allah disetiap aktivitas yang kita lakukan. Islam tidak pernah melarang remaja untuk mengekspresikan dirinya dalam kehidupan selama tidak melanggar dari koridor (atuaran) yang ada. Misalnya tentang pergaulan, Islam tidak melarang kita bergaul dengan siapa saja tapi kita harus memperhatikan kondisi yang ada seperti jangan berdua-dua (berkholwat) dengan lawan jenis, apalagi pacaran yang telah menjadi jargon remaja saat ini. Bila kita lihat dengan adanya aturan tersebut tentu saja akan dapat menghindari yang namanya perzinahan, apalagi aborsi yang termasuk kategori pembunuhan. Sehingga yang kita dapatkan adalah keselamatan dan ketentraman, belum lagi mendapatkan pahala disisi Allah karena telah melaksanakan aturan-NYa.
Apakah tidak ingin kita memilih Islam sebagai landasan hidup kita? Tentu saja ingin. Karena hanya Islam yang dapat menyelematkan kita di dunia dan akhirat kelak. Tidak inginkah kita seperti Ali Bin Abi Thalib yang berani berperang walaupun dia masih dalam usia remaja. Ataupun seperti Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum Muslimin menyerbu wilayah Syam, yang saat itu merupakan salah satu wilayah Romawi (saat itu merupakan Negara Superpower, Amerikanya sekarang), padahal usianya masih 18 tahun. Abdullah bin Umar tak kalah juga hebatnya, semangat juang untuk berperang mamanaskan jiwanya sejak usianya 13 tahun, pada perang AL-Ahzab Rasulullah SAW menerimanya sebagai anggota pasukan kaum Muslimin. Dan masih banyak remaja Islam lainnya yang memang bisa dibanggakan. Maukah kita mencontoh mereka? Agar kita menjadi remaja Muslim harapan umat yang bisa bermanfaat bagi diri kita sendiri, orangtua, keluarga, masyarakat, dan tentunya untuk Islam.
Penulis : Mastufah-Ilkom UPI



ReviewReviewReviewMetode BelajarDec 21, '07 12:59 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Other
Author:andi anugrah
Metode Belajar Teori vs Praktik

Metode belajar anak SD kebanyakan disampaikan secara klasikal, belajar teori, teori dan teori. Padahal, beberapa pelajaran bisa disampaikan secara praktik, yang hasilnya pasti lebih memuaskan. Benarkah?

"Nina.. ayo bangun sayang, sudah jam berapa ini? Hari ini kamu kan masuk pagi,"ujar Kasih ( 33 tahun ) sambil menguncang bahu putrinya.

Dengan malas Nina( 8 tahun ) bangun. "Mam, boleh nggak kalau aku nggak masuk hari ini, aku bosen sama pelajaran di sekolah, nggak asyik belajarnya," kata Nina malas-malasan.

Malas-malasan sekolah banyak dialami anak-anak mulai kelas 3 SD. Tentu saja banyak faktornya, tapi coba cermati salah satunya. Bisa jadi metode belajar anak di sekolah penyebabnya, seperti yang dialami Nina.

Ini dibenarkan pengamat pendidikan Universitas Jakarta Dra. Suprayekti, M.Pd. Metode pengajaran yang diberikan guru umumnya kurang menarik minat anak. Kebanyakan sekolah dan guru menerapkan metode belajar yang lebih banyak membahas teori dari pada praktik. Padahal metode belajar langsung praktik diyakini membuat anak lebih mudah menyerap pelajaran, dan menikmati belajar.

Dalam mengajar, tambah Suprayekti, sebenarnya ada prinsip yang harus dipegang oleh guru. Sehingga metode belajar dengan pendekatan teori dan praktik tidak bisa diberikan secara serampangan pada murid. Sayangnya, banyak hal yang jadi penyebab sekolah lebih mengedepankan teori daripada praktik, walaupun seharusnya pelajaran itu lebih baik jika diajarkan secara praktik.

Dalam proses pengajaran, kata Suprayekti, seharusnya pihak sekolah dan guru melihat banyaknya materi yang akan diberikan. Kedua, pelajaran yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak SD. "Bidang studi yang diberikan harus bisa mengembangkan ketrampilan motorik, sosialisasi, fisik dan ketrampilan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Pengembangan ketrampilan motorik sering dilupakan, pelajaran seperti Pendidikan Jasmani dan Kesehatan diberikan secara teori, padaha isinya praktik seperti bagaimana berlari atau melompat dengan benar, dsb."

Kekurangan Metode Teori
Sampai saat ini, kata Suprayekti tidak ada satu pun metode belajar yang sesuai dengan anak SD. Pasalnya, masing-masing metode punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Padahal bila mengacu pada karakter anak usia SD, metode belajar yang cocok adalah belajar dengan beraktivitas. "Dalam metode ini, para siswa langsung mendapatkan pengalaman dari materi pelajaran yang diberikan. Misalnya saat belajar tentang gerhana matahari, sebaiknya siswa langsung diperlihatkan video terjadinya gerhana. Dengan begitu siswa lebih paham."

Jika diasumsikan, papar Suprayekti, semestinya perbandingan antara praktik dan teori 75% : 25%. "Tujuannya agar pemahaman siswa terhadap isi pelajaran lebih maksimal," tambah dosen yang pernah mengajar di beberapa SD. Penekanan penyampaian pelajaran melalui teori sebenarnya, kata Suprayekti, bisa berdampak buruk. Sebab Pehamaman murid terhadap materi pelajaran yang diberikan hanya sesaat. Bahkan murid sulit mencerna pelajaran, jikapun dipaksakan mereka lebih cepat lupa. Akibatnya hasil yang dicapai murid misalnya dari segi sosial dan ketrampilan tidak maksimal.

Walaupun efek negatif dari metode teori lebih banyak, tapi bukan berarti metode belajar teori sepenuhnya kurang baik. Banyaknya pemberian teori, tandas Suprayekti justru akan melatih siswa bertanggungjawab dalam mengelola waktu belajar, dan memacu agar mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih baik.

Begitupula melihat kecenderungan anak lebih mudah menyerap pelajaran lewat metode praktik, bukan berarti semua pelajaran harus diberikan dengan pendekatan praktik. "Semua harus dilihat dari bobot pelajaran serta jenisnya. Karena perbandingan antara praktik tiap pelajaran berbeda satu dengan lainnya, sehingga penyampaian pelajaran melalui teori tetap dibutuhkan," tandas Suprayekti.

Metode Pembelajaran Terpadu
Agar murid bisa menerima pelajaran lebih mudah dan lebih memahami, Gurupun seharusnya melakuan upaya alternatif. Salah satunya melalui metode pembelajaran terpadu. "Dalam metode ini, guru harus memadukan beberapa konsep dari setiap pelajaran dengan model tematik. Yakni, dalam penyajiannya, dikaitkan dengan konteks yang terdapat di lingkungan. Misalnya anak diajak untuk aktif mengalami secara langsung materi pelajaran yang diberikan gurunya."

Dosen yang lulus S2 tahun 1999 ini mencontohkan, misalnya untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), jika guru mengambil tema kesehatan seperti proses pencernaan makanan bisa dikaitkan dengan anato